Jakarta - Buat kamu yang sedang menabung untuk merakit PC idaman atau meng-upgrade studio kreatifmu, sepertinya kamu harus ekstra bersabar. Badai kelangkaan komponen kini resmi menjalar dari RAM ke kartu grafis (GPU), dan lonjakan harganya benar-benar di luar nalar.
Kabar terburuk datang dari kubu Nvidia. Jajaran GPU andalan mereka, baik untuk kebutuhan profesional maupun gaming, mengalami kenaikan harga yang gila-gilaan hingga menyentuh angka ratusan juta rupiah.
Monster Workstation yang Makin Tak Tersentuh
Bintang utamanya kali ini adalah RTX Pro 6000 Blackwell. Kartu grafis raksasa dengan kapasitas memori 96GB yang dirancang khusus untuk pekerjaan kelas berat—seperti rendering efek visual, desain 3D, hingga pelatihan model AI—kini dibanderol mencapai 16.000 dollar AS (sekitar Rp 288 juta).
Mari kita lihat seberapa brutal kenaikannya sejak pertama kali diperkenalkan:
- Awal 2025 (Pre-order): ~7.600 dollar AS (Rp 136,8 juta)
- Februari 2025: ~8.500 dollar AS (Rp 153 juta)
- Juni 2026: Melompat ke >13.000 dollar AS (Rp 234 juta)
- Agustus 2026: Menembus 16.000 dollar AS (Rp 288 juta)
Hanya dalam waktu sekitar satu setengah tahun, harga perangkat ini sudah naik lebih dari dua kali lipat!
Gamers dan Kreator Menjerit
Jika kamu berpikir krisis ini hanya menimpa GPU kelas workstation, kenyataannya kartu grafis konsumer juga ikut terseret arus. Nvidia bahkan menaikkan harga GPU gaming mereka hingga 150% dari harga rilis awal.
- RTX 5090: GPU idaman para gamer ini awalnya dijual di kisaran 1.999 dollar AS (Rp 36 juta). Saat ini? Harga rata-rata di pasar Amerika Serikat sudah meroket hingga 4.700 dollar AS (sekitar Rp 84 juta).
- Kelas Menengah Ikut Naik: RTX 5080 naik 15-20% dari harga aslinya. Begitu juga dengan RTX 5070 Ti dan RTX 5060 Ti 16GB yang perlahan mulai menjauh dari kantong gamer mendang-mending.
- Imbas ke Kubu Sebelah: AMD pun tak kebal. Kartu grafis RX 9070 XT buatan mereka sudah mengalami dua kali penyesuaian harga sejak peluncuran, dengan total kenaikan 10-15%.
Siapa Biang Keroknya?
Jawabannya hanya satu: Demam Data Center AI.
Krisis yang mencekik pasar GPU saat ini memiliki akar masalah yang sama persis dengan meroketnya harga RAM. Tren kecerdasan buatan global membuat perusahaan raksasa berlomba-lomba memborong chip memori (DRAM dan GDDR7) untuk membangun pusat data AI mereka.
Mengingat memori menyumbang lebih dari 80% dari total biaya produksi sebuah GPU kelas atas, tak heran jika kenaikan harga komponen ini langsung memukul telak harga jual GPU di pasaran. Lembaga riset IDC bahkan memproyeksikan bahwa sepanjang tahun 2026 ini, pusat data AI akan rakus menyedot sekitar 70% dari total produksi memori di seluruh dunia.
Kondisi ekstrem ini mengundang perhatian serius dari para pakar. Daniel Lemire, seorang peneliti ilmu komputer terkemuka, bahkan melabeli fenomena ini sebagai sebuah "anomali sejarah". Puluhan tahun lamanya, kita terbiasa melihat harga komponen teknologi perlahan turun dan menjadi semakin terjangkau secara eksponensial. Namun hari ini, tren tersebut resmi terpatahkan oleh kebangkitan AI.